Foto bersama Abah KH. Masduqi Mahfudz (ALm)

Foto setelah Sholat Idzul Adha spt biasax.

Bersama Anak" tercinta

Foto bersama Rhamadhan penuh barokah.

Calon Ulama Masa depan

bersama temen" pelatihan di UIN MAlang.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 05 Mei 2014

PENGARUH TAYANGAN FILM HOROR TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT

PENGARUH TAYANGAN FILM HOROR TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT

A. LATAR BELAKANG
1.   Problem Teoritik
Film horror adalah sebuah film yang di dalamnya tersusun atas beberapa hal. Pertama yaitu sebuah film yang menyajikan sebuah cerita seram dan menampilkan gambar-gambar seram, sehingga yang dengannya membuat orang yang melihat dan mendengarnya merasa ketekutan.
Dan sebagaimana  yang kita ketahui sekarang ini, yaitu banyaknya tayangan-tayangan TV yang menayangkan sebuah film horror. Baik itu yang diproduksi oleh perfileman barat (yang terkenal dengan nama Hollywood) maupun perfileman Indonesia.
Sebagai contoh film-film horror yang diproduksi perfileman Indonesia adalah seperti ; Suster Ngesot, Lantai 13, Pocong, Malam Jumat Kliwon, Rumah Pondok Indah, Hantu Jeruk Purut, Kuntilanak, Sebut Namaku Tiga Kali, Terowongan Casablanca, Tusuk Jaelangkung, Lewat Tengah Malam, Bangsal 13, dan lain sebagainya. Film-film tersebut sangat digemari oleh sebagian masyarakat.
Dan film-film seperti itu mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi jiwa, perilaku, tingkah laku masyarakat. Dan utamanya terhadap perilaku anak-anak remajaindonesia.
2.  Identifikasi Masalah
Kami menemukan adanya pengaruh yang sangat kentara dalam kepribadain seseorang di dalam masyarakat sebagai akibat dari banyaknya tontonan yang bernuansa horror. Antara lain kami dapati banyak orang yang setelah menonton tayangan tersebut yang asalnya berani menjadi penakut.
 Dan terutama lagi pengaruh yang ditimbulkan oleh perfileman horror  sekarang adalah dalam masalah  keagamaan. Yairu sebuah pendangkalan aqidah yang ditimbulkan oleh tontonan itu, mereka mempercayai adanya hantu, bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa hidup untuk menghantui maupun orang lain yang masih hidup. Dan ini sangat bertentangan dengan ajaran islam, bahwa orang yang sudah meninggal ruhnya akan kembali kepada Alloh SWT.
3.  Analisis hipotesa
Sebenarnya, kalau cerita  yang ada dalam film horror itu sesuai dengan kenyataan, maka juga ada dampak positifnya, yaitu membuat orang percaya bahwa adanya kehidupan alam lain selain alam manusia, yaitu adanya alam ghoib yang antara lain dihuni oleh jin.
Akan tetapi Karena ketidsesuaian dalam cerita yang ditayangkan, seperti terkesan terlalu dipaksakan yaitu terlalu berupa fiktif dan tidak masuk akal, serta tidak adanya pesan yang baik yang dimunculkan dalam film horror itu membuat film itu menjadi tidak bermanfaat, tetapi berdampak yang sebaliknya.
Dan antara lain dampak-dampak yang ditimbulkan adalah; pendangkalan akidah, membuat orang malas dalam ibadah, penurunan maral remaja, membuat orang merasa was-was dan takut,  membuat masyarakat bertambah bodoh, dan lain sebagainya.

B. FOCUS MASALAH
Untuk penilitian kami, kami pusatkan pada tayangan perfilman horror produksi kita sendiri. Produksi film-film horror sekarang yang sedang digandrungi masyarakat adalah antara lain seperti suster ngesod, kuntilanak, dan lainnya sangat berpengaruh buruk terhadap perilaku masyarakat, utamanya anak remaja.
Maraknya film horor di bioskop saat ini membuat masyarakat semakin resah. Pasalnya, film-film tersebut dianggap kurang mendidik dan merusak moral generasi muda. Bahkan, banyak orang  yang juga mengecam maraknya film tidak bermutu itu. Dan pertanyaannya sekarang Benarkah film horor mengajak masyarakat untuk lebih takut kepada hantu dibanding pada Allah?. Untuk itu kami akan mengemukakannya dari berbagai sumber, dalam kategori pembahasan.
C. METODE PENELITIAN DALAM PSYKOLOGI SOCIAL
Dan untuk metode penelitian, kami lakukan melalui metode penggabungan. Kami buat tulisan ini melalui model deduktif (kami buat hal umum dahulu kemudian kami jabarkan ), induktif (kebalikan dari yang pertma), metode kualitatif, yaitu untuk penelitian kami mencari dari berbagai medea masa yang membahas tenteng hal yang kami inginkan, serta melalui metode kwantitatif, yaitu kami lakukan obserfasi ke masyarkat, dengan jalan bertanya tentang hal-hal yang kami butuhkan.


D. PEMBAHASAN
Maraknya film horor di bioskop saat ini membuat masyarakat semakin resah. Pasalnya, film-film tersebut dianggap kurang mendidik dan merusak moral generasi muda. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault juga mengecam maraknya film tidak bermutu itu. Benarkah film horor mengajak masyarakat untuk lebih takut kepada hantu dibanding pada Allah?
PULUHAN gambar bernuansa ajakan nonton film horor terpampang di sepanjang jalan protokol. Maklum, saat ini sudah puluhan judul film horor telah diproduksi dan siap ditonton oleh pemirsa di seluruh Indonesia. Sebut saja seperti Suster Ngesot, Lantai 13, Pocong, Malam Jumat Kliwon, Rumah Pondok Indah, Hantu Jeruk Purut, Kuntilanak, Sebut Namaku Tiga Kali, Terowongan Casablanca, Tusuk Jaelangkung, Lewat Tengah Malam, Bangsal 13, dan sebagainya.
Namun sayang, tidak satu pun film horor yang bernuansa budaya dan mendidik. Bahkan, film horor yang beredar justru merusak moral generasi muda. Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault mengungkapkan kegelisahannya terhadap maraknya film horor. Denan perkataan berikut “Saya sangat khawatir dengan perkembangan film di Indonesia, terutama film mistik dan horor. Film tersebut kurang baik untuk perkembangan remaja,”  Ia juga menjelaskan, film horor dan mistik bukan lagi menyemarakkan budaya nasional, tetapi sudah jauh menyimpang dan merusak moral. Bahkan, film tersebut jauh dari nilai-nilai edukasi dan islami. Pasalnya, film horor sudah mengajak masyarkat untuk mempercayai hal-hal gaib yang dilarang agama. Bias dibayangkan, seandainya remaja Indonesia tidak punya basic pendidikan agama, mereka akan tergilas oleh film horor dan mistik.
Berbeda dengan Adyaksa Dault, Sutradara dan Produser Film Nagabonar Jadi 2, Deddy Miswar mengatakan, film horor dan mistik yang marak saat ini jauh dari nilai religi. Pasalnya, film tersebut tidak ada pesan yang disampaikan kepada penonton. Akan tetapi, lebih menonjolkan sisi komersial dan jumlah penonton. “Saya tidak menyalahkan produser, karena film nasional kita baru berkembang. Akan tetapi, tanggung jawab sosialnya tidak ada,” katanya.
Dijelaskan Deddy, masyarakat perlu memilih tontonan yang mendidik dan menghibur. Bukan saja, ikut-ikutan tertarik karena promosi. Pasalnya, cerita film horor yang saat ini beradar jauh dari kualitas dan realitas. Tetapi, lebih mengutamakan sisi misteri dan hantu yang menakutkan. Sehingga, tujuan film bukan memberikan pesan, tetapi membaut penonton takut. Dan imbuhnya lagi “Kalu bicara idealisme sulit di masa sekarang. Karena, semuanya tergantung pasar dan trend di masyarakat. Sekarang trend-nya lagi horor sehingga para produser berlomba-lomba bikin horor. Itu yang merusak moral”.
Deddy berharap, di samping mengejar komersial, seharusnya sebuah film ada pesan moral dan tanggung jawab sosial. Karena setiap produksi mempunyai dampak kepada masyarakat. Terturama film horor, karena mereka menayangin hantu dan kasus pembunuhan yang tidak wajar. Tayangan semacam ini bisa membunuh karakter seseorang dan membuat orang waswas akan jadi dirinya. Bisa jadi, setelah nonton film horor bukan membuat orang bahagia, tetapi malah bikin orang takut dan waswas akan dirinya.
Sementara itu, Abdul Aziz, humas rumah produksi Sinemart mengatakan, maraknya film-film horor di Indonesia karena permintaan pasar. Apalagi, saat ini film horor baru tumbuh dan berkembang. Sayangnya, kualitas dan ceritanya tidak realitas dan terkesan fiktif.
Aziz juga menambahkan, trend semacam ini membuat para rumah produksi berlomba-lomba mencari keuntungan. Karena, permintaan masyarakat tetap tinggi, akan tetapi Aziz yakin film horor lambat laun akan hancur sesuai berjalannya waktu dan pendidikan masyarakat.
Maraknya film horor di Indonesia ditanggapi negatif oleh pakar komunikasi, Prof Dr Yunan Yusuf. Ia mengatakan, film horor membuat manusia pemalas dan tidak rajin beribadah. Pasalnya, horor telah membantu masyarakat untuk percaya selain Tuhan. Apalagi, film tersebut dibuat dengan fiktif dan mengada-ada. Menurut beliau film horor banyak menimbulkan mudharat dari pada positifnya. Karena, masyarakat bisa bodoh dan pemalas, karena pengaruh film tersebut.
Hal senada juga disampaikan oleh Nuke Wardani, dosen dari Universitas Indonesia. Menurutnya, film horor punya dampak sosial yang sangat luas. Karena, membuat masyarakat waswas dan takut setelah menonton. Menurutnya film horror membuat masyarakat takut dan percaya akan hantu. Ia menambahkan, ada baiknya film horror bukan hanya memikirkan sisis komersial, tetapi punya tanggung jawab pendidikan dan psikologi. Karena, mendidik lewat film sangat mudah dan murah. Masyarakat tidak usah belajar, mereka bisa saja cuma menonton dan bisa memberikan pesan yang baik.
Beliaua juga menambahkan bahwa;”Film horor membuat masyarakat semakin bodoh. Selain itu, film semacam itu juga menimbulkan rasa waswas dan tidak percaya diri pada remaja. Demikian pendapat Dra Nuke Wardhani, dosen psikologi Universitas Indonesia.”  Dan berikut adalah sebuah petikan wawancaranya beliau dalam suatu media.
Sekarang marak sekali film horor, bagaimana Anda menanggapinya?
“Dalam teori psikologi ada namanya psikologi sosial dan di situlah dikaji soal dampak film terhadap masyarakat. Saya melihat film horor ada plus minusnya. Plusnya adalah perfilman Indonesia semakin hari semakin banyak dan itu membuat masyarkat mudah memilih film horor. Minusnya film horor tidak memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama masyarakat muslim. Karena, mempercayai film horor dalam agama tidak diperbolehkan, apalagi sampai menyekutukan tuhan. Saya melihat maraknya film horor membuat masyarakat kita tambah bodoh”.
Lalu dampak sosial kepada masyarakat apa?
“Masyarakat selalu dihantui oleh perasaan takut dan pemalas. Karena mereka mempercayai hal-hak gaib di luar Tuhan. Apalagi penonton sampai meniru perilaku film dan itu berbahaya, karena film bisa saja mempengaruhi penontonnya sehingga pemirsa terus ikut emosional. Saya kira, perlu ada kritik sosial yang membangun untuk kemajuan film nasional. Bukan hanya memandang segi komersilnya saja tetapi juga aspek sosialnya harus dipikirkan”.
Dampak psikologis kepada remaja dan mayarakat?
“Dampaknya bisa bermacam-macam, bisa rasa cemas berkepanjangan dan rasa waswas. Bahkan, rasa takut ketika di tempat sepi mengingat film tersebut itu juga bisa terjadi. Aspek yang lain, masyarakat tidak lagi berani dan percaya diri akan dirinya, karena rasa takut itu sudah mengiringinya. Namun, apalagi individu punya iman yang kaut, bisa jadi film horor tidak berpengaruh, karena mereka meyakini adanya Allah”.
Dan berikut adalah sebuah petikan wawancara Prof Dr Yunan Yusuf, seorangpakar komunikasi Islam yang kami ambil dari sebuah media.
Bagaimana Anda mengomentari maraknya film horor di Indonesia?
Ya, seperti yang saya amati, film horor semacam itu kurang mendidik. Artinya dari sisi agama sangat kontradiktif, namun dari sisi kemanusian justru banyak masyarakat yang suka. Entah karena ceritanya atau karena memang lagi trend saja. Seharusnya film itukan memberikan misi kepada penonton, entah itu misi dakwah atau misi pendidikan. Namun di film horor misisnya biar orang takut dan ceritanya cenderung tidak realita.
Apa sisi negatifnya bagi masyarakat kita?
Sisi negatifnya terkesan mistik dan klinik. Karena orang dituntut untuk berpikir dan mempercayai hantu itu ada. Muncul kekhawatiran di tengah masyarakat, semakin banyaknya film horor, masyarakat semakin takut dan cenderung mengikuti film tersebut. Kalau sudah ini terjadi, maka manusia tidak lagi cendrung dan tergantung sama Allah, melainkan cendrung kepada iblis, syetan dan hantu. Padahal hantu itukan dipengaruhi oleh kekutan jahatan.
Kalau sisi positifnya apa?
Sisi positifnya penonton jadi tahu apa itu hantu dan bagaimana cara prilakunya. Akan tetapi, secara realitas, hantu itukan nggak nyata, seperti di film. Kepercayaan itu akan menimbulkan rangsangan psikologis dan interaksi sosial sehingga membuat budaya kerja dan disiplin tidak lagi dilakukan. Masyarakat kita jadi pemalas karena banyak menonton film horror. Kalau sudah seperti itu, maka fungsi agama tidak berlaku, karena masyarakat tidak lagi percaya akan kekuatan tuhan.
Kalau lihat dari sejarah, bangsa Indonesia kan kaya dengan horror. Apa pendapat Anda?
Ya, orang terdahulu selalu berpikir begitu. Karena tidak ada pintu agama yang masuk sehingga mereka mempercayai hal yang gaib yang datangnya bukan dari Allah. Agama datang untuk memberantas kepercayaan semacam itu. Apalagi masa lalu itu diulang-ulang, maka bangsa atau umat ini tidak ada proses kemajuan. Alasannya cukup sederhana, masyarakat kita selalu terlena dengan hal-hal yang berbau mistik. Kalau ada film mistik pasti mereka menyukai, karena latar belakang masa lalu selalu ada.
Dalam hukum Islam, apakah film horor ini termasuk haram ditonton?
Film horor hukumnya mubah. Artinya boleh ditonton, dengan catatan tidak mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada hantu dan tayangan pembunuhan. Kalau sampai tayangan film itu mempengaruhi tindakan remaja dan manusia maka hukumnya bisa menjadi haram. Karena, praktik tersebut melanggar syariat. Sama seperti film smack down, yang sempat anak usia sampai meninggal karena praktik itu.
Sementara menurut beberapa artis maupun sutradara perfilman Indonesia bahwa film horror kita terkesan dipaksakan, artinya scenarionya dibuat terlalu mengada-ada dan tidak masuk akal.
Dan apa yang kami dapatkan melalui observasi terhadap sebagian masyarakat menguatkan pendapat-pendapat mereka. Mereka (sebagian masyarakat) mengatakan bahwa tayangan film horror berdampak negatife terhadap perilaku masyarakat utamanya kaum remaja,  yaitu merupakan salah satu penyebab pendangkalan akidah, penurunan moral masyarakat, membuat msyarakat merasa was-was dan takut, serta memperbodoh masyarakat.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Hadirnya beberapa stasiun televisi di Indonesia patut dirayakan sebagai sebuah prestasi. Apalagi jika mengingat kontribusi yang telah mereka berikan dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Booming TV swasta diakui telah mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat melalui sajian informasi yang disampaikan secara tajam, objektif dan akurat.
Pendek kata, publik telah berhutang jasa kepada media televisi yang telah membantu anggota masyarakat dalam memahami berbagai persoalan aktual di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain. Media televisi juga telah memperluas wawasan publik dengan sajian acara dialog, debat, talk show, diskusi dan berbagai acara informatif-edukatif lain.
Dengan begitu tayangan-tayangan dalam TV mempunyai pengaruh yang besar terhadap perubahan perilaku masyarkat. Dan salah satu yang mempunyai dampak terhadap kondisi kejiwaan dan tingkah laku msyarakat adalah tontonan film horror. Karena cerita yang ada dalam film tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak negatif pada prilaku masyarakat.
Adapun dampak-dampak yang ditimbulkan adalah dalam masalah keagaman, yaitu salah satu faktor penyebab pendangkalannya akidahkaum muslimin, yaitu salah satunya adalah membuat masyakat lebih percaya dan takut kepada hantu daripada kepada Allah SWT. Dan berdampak buruk pada kejiwaan seseorang, yaitu membuat seseorang menjadi penakut dan merasa was-was.
Dan harapan kami, kepada semua kru perfilman Indonesia unuk mempelajari kembali scenario-skenario film yang akan mereka tayangkan, apakah dari  film yang akan mereka tayangkan berdampak buruk terhadap masyarakat atau tidak. Jika diperkirakan akan berdampak negative, maka sebaiknya jangan dulu ditampilkan akan tetapi perlu direvisi kembali. Dan  hendaknya para produser untuk lebih menampilkan pesan-pesan yang baik dari apa yang mereka tayangkan di layar kaca, jangan hanya lebih mementingkan komersil semata. Serta membuat film sesuai dengan kenyataan, jangan terlalu banyak menambahkan atau mengurangi cerita yang ada.
Untuk stasiun-stasiun TV hendaknya lebih mengontrol dan menyaring film-film yang akan mereka tayangkan, apakah tayangan ini baik untuk dipasarkan kepada masyarat awam atau tidak jangan hanya karena kepentingan kelompok pribadi (komersial) mereka korbankan moral masyarakat.
Adapun kepada masyarakat umum kami sarankan, untuk lebih memilah-milah tontonan yang ada dalam TV, dan untuk lebih obyektif dalam menanggapi sebuah film, serta jangan mudah terpengaruh oleh apa yang mereka konsumsi dari layar kaca mereka, hendaknya dicerna dan diteliti lagi kebenarannya. Dan untuk para orang tua hendaknya lebih mengontrol tayangan yang akan ditonton oleh anak-anak mereka.


DAFTAR PUSTAKA
1.   Nara sumber setempat.
2.  Majalah tabloid “Nurani”, 07 juli 2007.
3.  Suara merdeka,kamis, 17 februari 2005.

4.  www.tablotnurani.com, 28 november 2008.

INTERNALISASI NILAI-NILAI TASAWUF DI ERA GLOBALISASI

INTERNALISASI NILAI-NILAI TASAWUF DI ERA
GLOBALISASI
Tasawuf atau sufisme adalah suatu cabang keilmuan dalam Islam atau secara keilmuan adalah hasil dari kebudayaan Islam yang lahir kemudian setelah Nabi Muhammad saw. wafat. Sebab, ketika Nabi Muhammad saw. masih hidup belum ada istilah ini. Yang ada hanya sahabat (sebutan yang hidup pada jaman Nabi). Sedangkan, generasi yang hidup setelah generasi itu disebut tabiin.
Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Arab, tashawwafa, yatsahawwafu, tashawwufan. Para ulama berbeda pendapat dari mana asal- usulnya. Ada yang mengatakan dari kata shuf (bulu domba), saf (barisan), shafa (jernih) dan dari kata shuffah (emperan Masjid Nabawi yang ditempati sebagian sahabat Nabi saw.)
Secara terminologi banyak dijumpai definisi yang berbeda-beda. Yang oleh Ibrahim Basyuni diklasifikasikan menjadi tiga, yakni Al-bidayah, Al-mujahadah, dan Al-madzaqah.
Sufisme adalah bagian dari syariat islamiah, yakni wujud ihsan. Tiga kerangka ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan. Ihsan meliputi semua tingkah laku umat Islam, baik tindakan lahiriah maupun batiniah, dan ibadah maupun muamalah. Sebab, ihsan adalah jiwa atau roh dari iman dan Islam.
Iman sebagai fondasi yang ada pada jiwa seseorang merupakan hasil perpaduan antara ilmu dan keyakinan, penjelmaannya yang berupa tindakan badaniah (ibadah lahiriah) disebut Islam. Perpaduan antara iman dan Islam pada diri seseorang akan menjelma dalam pribadi dalam bentuk akhlak yang mulia atau disebut ihsan. (Q.S. Lukman/31: 22).
Sedangkan, pengertian ihsan menurut hadis Nabi, "Beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihatnya, jika kamu tidak dapat melihatnya, maka harus diketahui bahwa dia melihat kita." Pernyataan ini mengandung makna ibadah dengan penuh ikhlas dan khusyuk, penuh ketundukan dengan cara yang baik.
Sebagaimana dikatakan tasawuf adalah bagian dari syariat Islam, sudah barang tentu semua hal yang berkaitan dengan sufistik didasarkan kepada Alquran, hadis, dan perilaku sahabat Nabi saw., baik yang menyangkut tingkatan (maqam) maupun keadaan jiwa.
Maqam adalah hasil dari kesungguhan dan perjuangan terus menerus, dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik. Contoh maqam adalah tobat, zuhud, wara, fakir, sabar, dan rida. Adapun hal adalah kondisi sikap yang diperoleh seseorang tanpa melalui latihan, semata-mata karunia Allah kepada yang dikehendaki-Nya. Contoh hal adalah qurb (dekat dengan Allah), hub (cinta Allah), yakin muhasyadah (penyaksian), dan makrifat (mengenal Allah). (H.M. Amin Syukur, 2004).
Dalam Alquran Surat Al-Hadid/57: 3, tertera bahwa Allah menerangkan diri-Nya sebagai yang lahir dan yang batin. Dunia dan isinya adalah pancaran dari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. Dan, memang benar adanya semua realitas dunia memiliki aspek lahir dan aspek batin.
Bagi kaum sufi, pendalaman dan pengalaman batin adalah sesuatu yang utama tanpa mengabaikan aspek lahiriah yang dimotivasikan membersihkan jiwa. Kebersihan jiwa itu merupakan usaha dan perjuangan panjang yang tiada hentinya, sebagai cara individu yang terbaik mengontrol diri, setia, dan senantiasa merasa di hadapan Allah swt.
Perlu disadari lahirnya tasawuf sebagai fenomena ajaran Islam. Hal ini ini berawal dari ketidakpuasan terhadap praktek ajaran Islam yang cenderung formalisme dan legalisme. Selain itu, tasawuf juga sebagai gerakan moral terhadap ketimpangan sosial, politik, moral, dan ekonomi yang dilakukan umat Islam, khususnya oleh kalangan penguasa pada waktu itu. Pada saat demikian tampilah beberapa tokoh tasawuf untuk memberikan solusi, dengan ajaran tasawufnya. Sebut saja Abu Dzar, Al-Gazali, serta Hasan Albasri. Solusi yang ditawarkan merupakan pembenahan dan transformasi tindakan fisik terhadap tindakan batin, serta solusi terhadap formalisme dan legalisme dengan spiritualisasi ritual.
Mengutip pendapat H.M. Amin Syukur, secara subtansial, tasawuf memiliki beberapa ajaran sosial, antara lain futuwwah dan itsar. Ibn Al-husain Al-sulaimi mengartikan futuwwah (kesatria) yaitu dari kata fata (pemuda). Apabila kita mengartikan kesatria adalah sosok yang ideal baik lahir maupun batin. Kesatria adalah sosok yang sabar, dermawan, ramah, suka menolong, pantang menyerah, dan senantiasa memikirkan masa depan dengan sikap antisipatif dengan penuh tanggung jawab dan perencanaan. Sedangkan, itsar adalah lebih mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri.
Perlu kita sadari bersama Indonesia pada saat ini mau-tidak mau telah memasuki negara modern dan negara industri. Dan, sudah menjadi wacana publik bahwa dalam era ini akan muncul dan tumbuh sikap rasionalisme dalam memandang alam dan lingkungan hidupnya serta sekulerisasi pun akan menyertainya. Sudah tentu sikap mementingkan diri sendiri termasuk di dalamnya. Dalam hal ini akan muncul sikap desakralisasi kehidupan duniawi. Dunia yang dulunya sarat dengan keterikatan magis dalam kekuasaan ulama dan lembaga agama mulai dijelajahi sebagian besar orang. Fungsi dan makna dunia secara objektif yang selama ini diterima apa adanya secara emosional dari warta wahyu, kini mulai ditanggapi kritis dan rasional.
Dalam kehidupan masyarakat kritis dan rasional atau disebut masyarakat modern, pada umumnya hubungan antara anggota masyarakat atas dasar prinsip-prinsip fungsional pragmatis. Mereka merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisik. Masyarakat modern pun sangat mendewa-dewakan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sudah barang tentu menampilkan nilai-nilai Ilahi. Hal inilah sebetulnya yang menyebabkan masyarakat modern berada di wilayah pinggiran eksistensinya sendiri.
Banyak hal-hal yang dihadapi masyarakat modern, yang pada saatnya akan merugikan diri mereka sendiri. Seperti kehampaan spiritual, kegelisahan dan akibat lebih jauh adalah degradasi moral.
Kehampaan spiritual, hal inilah sebetulnya yang mengakibatkan banyak dijumpai orang yang stres dan gelisah akibat tidak mempunyai pegangan hidup. Kegelisahan pada masyarakat modern itu disebabkan perasaan takut kehilangan apa yang dimiliki, timbulnya rasa takut masa depan yang tidak disukai, kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan, terutama kepuasan spiritual. Degradasi moral yang dapat menjatuhkan harkat dan martabat manusia. Dalam masyarakt modern seperti sekarang ini sering menampilkan sifat-sifat yang tidak selayaknya ditampilkan, singkatnya sifat yang tidak terpuji dan tidak beradab, terutama dalam menghadapi dan menggapai materi yang gemerlap. Dalam masyarakat, ini selalu dikuasai keinginan berkompetisi yang dikuasai hawa nafsu, dan berkompetisi untuk menguasai yang lain yang sudah tentu berlandaskan nafsu. Seperti digambarkan dalam dunia perpolitikan. Yang satu ingin menguasai yang lain, yang satu ingin menyingkirkan yang lain, yaitu buat kepentingan diri dan golongannya. Tak terlepas para pelaku pembangunan pun melakukan banyak kebocoran, yang itu merugikan masyarakat banyak.
Dari gambaran diatas, jelas kehidupan modern dan industrialisasi membutuhkan sentuhan yang lain untuk merajut hidup. Salah satu alternatif yang dibutuhkan adalah nilai-nilai tasawuf. Dalam kiprahnya, tasawuf banyak menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, maupun budaya.
Semisal keterlibatan langsung tasawuf dalam kancah perpolitikan. Ada beberapa kelompok tasawuf yang mampu menumbuhkan semangat nasionalisme. Ambil contoh di Afrika Utara. Pengusiran Prancis dari Algeria dan Sudan Tengah. Dihalaunya Italia dari Libia. Di Mesir pun Inggris mengakui kepemimpinan tokoh spiritual Sanusyah, Muhammad Idris, dan dia pula yang mendirikan Negara Serikat Libia, yang meliputi Cyrenaika, Tripolitania, dan Fezzan.
Dalam kiprahnya, tasawuf tidak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan kerohanian, disiplin tinggi, dan memajukan perniagaan. Serta, gerakannya berada pada perjuangan dan pembaruan dan programnya berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial dan tidak terbatas pada spiritual keakhiratan saja. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktivis, memberantas penyelewengan moral, sosial, dan keagamaan.
Tasawuf secara epistimologis memakai metode intuitif, yang pada zaman ini dapat dijadikan salah satu alternatif dari rasionalisme dan empirisme dan membantunya melakukan terobosan baru dalam berbagi hal. Lebih lanjut Hennry Bergson berpendapat pada diri manusia terdapat infraintelektual dan supraintelektual. Infraintelektual adalah intuisi yang menyertai pikiran dan masuk pikiran melalui indra, sedangkan supra intelektual adalah intuisi yang tumbuh pada diri manusia tanpa didahului keterangan logis dan tidak bergantung pengamatan indra.
Hal senada pun dilontarkan Javad Nurbakh dalam artikelnya "Sufisme dan Psikologi Analisis". Bahwa dalam terminologi pisikologis sufi, ada dua istilah yang perlu dipahami, yaitu aql kully (akal universal), dan aql zuz'i (akal partikular). Akal partikular dapat diperoleh dari pengalaman sehari-hari, dari kehidupan material. Menurut psikologi sufi, akal partikuler tak dapat digunakan untuk mencapai kebenaran, karena kebenaran selalu berkaitan keseluruhan dengan universalitas. Hal demikian menunjukkan intuisi dapat dijadikan alat kontemplasi untuk menemukan sesuatu yang baru dan benar.
Melihat kenyataan yang tergambar di atas, secara hipotesis dapatlah dikatakan spiritualitas dapat berjalan seiring dengan rasionalitas. Tidaklah mengherankan sekiranya pada zaman modern seperti sekarang ini banyak orang yang makin dalam terbenam dalam pekerjaan intelektual, makin rindu pula pada kehangatan spiritual. Maka dari itu, kita perlu berkontemplasi, memang kehidupan lahir tida sia-sia. Namun, berpuas diri semata-mata dengan masalah lahiriah, merupakan pengingkaran kodrat manusia yang sebenarnya karena dasar-dasar terdalam keberadaannya untuk melakukan perjalanan diri dari yang lahir ke yang batin. Sebagai mana telah dikemukakan di atas, realitas dunia memiliki aspek lahir dan aspek batin. (Al-Hadid /57: 3).
Semoga dengan menginternalisasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai dan konsep-konsep tasawuf, mampu memberikan jawaban terhadap problem-problem yang ada pada masa ini, yakni problem dan dampak negatif modernisasi, keindustrian dan pluralitas baik secara global maupun Indonesia secara khusus. Dengan demikian, semoga tasawuf dapat dijadikan sebagai sebuah ikhtiar pengembangan sumber daya insani menuju masyarakat Islam yang bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridai Allah swt. Wallahualam bissawab.

Minggu, 04 Mei 2014

KELAHIRAN RASULULLAH SAW SEBAGAI ANUGERAH TERBESAR BAGI UMMAT MANUSIA

KELAHIRAN RASULULLAH SAW SEBAGAI ANUGERAH TERBESAR BAGI UMMAT MANUSIA

Bulan Rabiul awal yang biasa disebut bulan maulid adalah bulan yang tidak pernah terlupakan oleh orang muslim, karena pada bulan ini seorang putra terbaik dari Bani Hasyim Bangsa Arab, sesosok pemuda teladan yang kemudian menjadi pemimpin terbesar dunia telah dilahirkan, tepatnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul awal, bertepatan dengan 20 April 571 M.

Muhammad, nama ini selalu dikenal seantero penjuru dunia. Dia telah berhasil merubah wajah dunia menjadi bermakna, dari gelap menjadi terang, dari kebodohan menjadi berperadaban. Dialah seorang yang telah mengantarkan manusia kepada nilai kemanusiaannya yang tinggi, dialah yang telah mengembalikan manusia kepada keberadaan yang sebenarnya yaitu mulia dan sempurna sebagaimana pertama kali dimaksudkan.

Beberapa peristiwa luar biasa mengiringi kelahiran beliau, diantaranya adalah padamnya api pemujaan di Persi yang seribu tahun sebelumnya tak pernah padam sama sekali, hancurnya pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah yang hendak menghancurkan ka’bah. Mereka hancur ditimpa batu - batu panas yang dibawa burung-burung ababil yang sengaja dikirim Allah untuk membatalkan niat busuk mereka, serta banyak lagi kejadian luar bisa lainnya.

Kenyataan ini tentu saja membuat kita merasa berterima kasih dengan kedatangannya. Sebagaimana laiknya kita sebagai umatnya, memperingati hari dan bulan ini sebaik-baiknya dengan melihat dan membaca kembali sejarah perjalanan pribadi dan kepribadian beliau. Allah selalu membimbing, mengarahkan dan mengingatkan orang - orang yang menginginkan kehidupan Ahirat. Dalam konteks ini Allah menguraikan dalam Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” QS Al-Ahzab 21.

Dalam firman ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang menginginkan kehidupan Ahirat, maka hendaklah mereka meniru kepribadian Rasulullah saw. Menjadikan Rasulullah sebagai panutan dan suri tauladan, bukan kepada yang lain. Sebuah pengakuan jujur dari seorang penulis non Muslim telah dituangkan dalam buku seratus tokoh dunia tentang pribadi Nabi Muhammad Saw. Penulis buku ini telah menempatkan Nabi Muhammad Saw pada tingkat pertama disusul oleh tokoh-tokoh dunia lainnya.

Ini semua karena beliau Nabi Muhammad telah berhasil menghapuskan segala bentuk penindasan kepada masyarakat yang lemah, beliau menghapuskan sistim perbudakan yang jelas-jelas merendahkan martabat manusia, beliau tutup jurang pemisah antara yang kaya dan miskin, beliau persatukan manusia yang semula bermusuhan dan menjadikan mereka bersaudara, beliau berhasil meletakkan landasan kemanusiaan, yaitu bahwa tidak ada perbedaan antara satu suku dengan lainnya, bangsa satu dengan bangsa lainnya, komunitas satu dengan komunitas lainnya apapun warna kulit dan keturunannya, tidak ada yang membedakan mereka kecuali takwanya kepada Allah, inilah nampaknya yang dimaksudkan

Allah SWT dalam firman-Nya :

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” QS Al-Anbiya 107.

Dengan ayat ini, jelaslah bahwa Nabi Muhammad Saw diutus ke dunia ini bukan hanya untuk satu golongan atau komunitas tertentu, melainkan untuk kesejahteraan manusia sedunia. Oleh karena itulah, beliau memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang luar biasa, mempunyai sifat keberanian dalam membawa kebenaran.

Kelemahan umat Islam sekarang ini, diantaranya adalah, mereka telah melupakan pribadi dan sifat-sifat beliau. Mereka tidak lagi meneladani kepribadian beliau. Para pemimpin tidak lagi meniru gaya kepemimpinan Rasul yaitu pimpinan yang berani menegakkan kebenaran. Pedagang tidak lagi meniru praktek dagang yang pernah dilakukan Rasul. Orang tua tidak lagi mempraktekkan gaya Rasul. Guru tidak lagi mempraktekkan cara beliau mendidik generasi mudanya. Masyarakat telah melupakan panutan ini, sehingga ahirnya mereka menjadi masyarakat yang terombang ambing kehidupan dunia yang melenakan.

Semangat bulan maulid ini, yang selalu diperingati dengan pembacaan barzanji, pembacaan sholawat, pembacaan Marhaban serta lainnya merupakan sebuah titik tolak ukur kita untuk bersama-sama membaca kembali sejarah kepribadian Nabi dan menjadikannya sebagai satu-satunya panutan yang akan menghiasi lembar demi lembar kehidupan kita bersama. Jadi tidak salah bahwa kelahiran nabi yang telah dinanti-nantikan pada masa jahiliyah merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT, sehingga sampai saat ini kita merayakannya dengan cara kita masing-masing. Kelak kita akan mendapatkan syafaat Nabi diakhir kelak. Amiiin.


diambil dr makalah Agus Taqiyyuddin Alawy

Sabtu, 03 Mei 2014

Asal-Usul Peringatan Maulidin Nabi saw

Asal-Usul Peringatan Maulidin Nabi saw.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diselenggarakan oleh Muzaffar ibn Baktati, raja Mesir yang terkenal arif dan bijaksana. Sedangkan pencetus ide peringatan adalah panglima perangnya, Shalahuddin Yussuf Al-Ayubi (abad ke-6 M), sosok pemimpin pasukan Islam yang pernah mengalahkan pasukan Kristen dalam Perang Salib. Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillahdari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M). Seperti disebutkan dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, ia kemudian juga gigih menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi dari tahun ke tahun di masanya. Mengapa Shalahuddin merasa perlu mengadakan peringatan Maulid? 
Sang panglima berpendapat, ketika Perang Salib terjadi, motivasi umat Islam sangat menurun, sementara motivasi pasukan Salib (Kristen) meningkat. Hal ini tentu tidak kondusif bagi pasukan Islam, sehingga Shalahuddin merasa perlu membangkitkan kembali semangat umat Islam sebagaimana umat Kristen dengan perayaan Natal-nya. Maka sang panglima ini kemudian mengadakan peringatan hari lahir Muhammad SAW yang kemudian dikenal dengan sebutan Maulid Nabi. Bila dalam peringatan Natal kaum Kristen dikisahkan tentang keagungan Yesus, maka dalam peringatan Maulid Nabi, Shalahuddin menggemakan kisah perang yang dilakukan Nabi SAW. Tapi belakangan, yang dibacakan pada acara peringatan Maulid tersebut berubah, bukan lagi kisah perang, melainkan kisah lahir dan hidup sang Nabi SAW. Kisah perang tampaknya dianggap tak lagi relevan lagi. Kini, meskipun tak ada lagi perang fisik di kalangan umat Islam, peringatan Maulid Nabi tampaknya masih perlu dilakukan. Selain dimaksudkan untuk meneladani akhlak Muhammad SAW, peringatan Maulid juga diperuntukkan untuk perang yang lebih besar, yakni perang melawan hawa nafsu, kemungkaran, dan kemaksiatan. Krisis berkepanjangan bangsa Indonesia saat ini, antara lain disebabkan meraja lelanya kemaksiatan, kemungkaran dan tidak adanya penegakan nilai-nilai moral. Hawa nafsu lebih mendominasi kehidupan umat manusia saat ini ketimbang moral. Perang dalam bentuk non-fisik inilah yang dinilai lebih berat dari perang fisik. Apalagi di tengah perkembangan globalisasi saat ini, yang tak jarang memperlemah semangat keimanan umat Islam, maka peringatan Maulid Nabi SAW menjadi sangat penting.

Jadi sekarang ini tujuan utama dalam peringatan maulid Nabi adalah dalam rangka menumbuhkan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah saw. dengan mempelajari sejarah beliau dan akhlak beliau, karena Syeh Muhammad Nawawi bin Umar Al Banteniy dalam kitabnya "Qomiuth Tughyan" sarah dari kitab Suaibul Iman yang dikarang oleh Syeikh Zainuddin bin 'Ali menjelaskan bahwa: termasuk cabang Iman yang ke 14 dan 15 adalah Mencintai Rasulullah saw. dan Mengagungkan Derajat Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ .

Artinya: "Tiadalah salah seorang dari kalian beriman, sehingga aku lebih dicintai olehnya dari pada dirinya, hartanya, anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya".

Yang dimaksud dengan manusia dalam hadits ini adalah selain orang-orang yang telah disebutkan, seperti: kerabat, kenalan, tetangga, teman, dan lainnya. Menyintai Rasulullah saw. adalah perwujudan dari mencintai Allah ta'ala, demikian pula mencintai ulama' dan orang-orang yang bertaqwa, karena Allah ta'ala mencintai mereka itu, sedang mereka juga mencintai Allah. Dan semuanya itu kembali kepada kecintaan yang asli dan tidak boleh melampauinya; karena pada hakekatnya, sama sekali tidak ada yang dicintai bagi orang-orang yang tajam pandangan mata hatinya, kecuali Allah ta'ala. Dan sama sekali tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Dia. 

15. Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw.
Yang dimaksudkan dengan mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw. ialah mengetahui ketinggian derajatnya; menjaga tata krama dan sopan santun pada waktu menyebut nama beliau dan mendengar nama serta hadits beliau; memperbanyak membaca shalawat atas beliau; dan memusatkan perhatian dalam mengikuti sunnah beliau. Dalam surat Al Hujuraat ayat 2 Allah swt. berfirman:

يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَرْفَعُوْا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُوْنَ . 
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus pahala amalmu sedangkan kamu tidak menyadari".

Dari sini jelaslah bahwa tujuan peringatan Maulid Nabi adalah mulya karena untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw dan Mengagungkannya, yang keduanya merupakan dua cabang Iman. 

Dengan tujuan tersebut apakah benar masih dikatakan bahwa peringatan Maulid Nabi dilarang? 
Walhasil. barangsiapa yang melarang pelaksanaan peringatan Maulid Nabi dengan tujuan di atas, maka tidak lain orang tersebut orang yang tidak punya iman dan kecintaan kepada Rasulullah saw.

MASYARAKAT SAKINAH UNTUK MENUJU NEGARA MAKMUR DAN SEJAHTERA

MASYARAKAT SAKINAH UNTUK MENUJU NEGARA MAKMUR DAN SEJAHTERA
     I.               LATAR BELAKANG
Pada zaman globalisasi sekarang ini, banyak manusia yang buta akan pandangan atau perspektif hidup terutama masyarakat kita (Indonesia), yang tidak bisa  membedakan antara sebuah kemodernisasian dan westernisasian. Mereka memandang bahwa semua yang datang dari barat adalah sesuatu yang harus dijadikan pegangan dan hukum, sehingga mereka banyak yang keluar dari garis syariat, baik pelanggaran terhadap syariat islam maupun adat dan norma-norma sebagai masyarakat Indonesia.
Dan kita dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka terutama sekali dalam kehidupan bermasayarat. Banyak anak-anak muda sekarang yang tidak lagi hormat kepada orang yang lebih tua, bahkan mereka berani kepada orang tua mereka sendiri, dan kita sering mendengar terjadinya pertengkaran atau percekcokan diantara sesama warga masyarakat, sehingga menimbulkan disorganisasi dan ketegangan di masyarakat tersebut, dan semua itu tentu sangat tidak sesua dengan norma-normayang belaku di masyarakat, baik norma apapun juga.
Itu hanya sebuah contoh kecil saja, sebenarnya masih banyak contoh lainya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Dan kita dapat melihatnya dari kehidupan di sekitar kita baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam sebuah organisasi. Tetapi kami hanya akan membahas yang kedua saja yaitu kehidupan bermasyarakat, karena masyarakat merupakan suatu unit dari sebuah Negara yang dapat kita lihat secara nyata di kehidupan sehari-hari kita.
Sebenarnya asalkan tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat, kita diperbolehkan mengadopsi pemikiran barat, misalnya dalam masalah ilmu pengetahuan, seperti filsafat lebih-lebih masalah teologi barat yang jauh berbeda dengan teologi kita.
Melihat fenomena di atas kita merasa prihatin akan kesalah pandangan perspektif hidup dan paradigma. Oleh karena itu perlunya perubahan paradigma dengan pemikiran yang sesuai dengan tuntunan Nabi. Hal inilah yang menjadi tuntutan bagi kita selaku kaum intelektual. Sehingga kami bermaksud menyusun sebuah tulisan yang semoga dengan karya yang tidak seberapa ini sedikit bisa merubah dan membantu mereka dalam menemukan pemikiran yang sesuai dengan tuntunan syariat kita, yaitu yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi SAW.

      II.          KAJIAN DALAM PERSPEKTIF ONTOLOGI
Masyarakat adalah sebuah unit dalam sebuah stuktur suatu Negara. Masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam mencapainya kesejahteraan maupun kemakmuran sebuah Negara, karena tidak mungkin sebuah Negara akan menjadi lebih baik jika kondisi masyarakatnya belum bisa dikindisikan.
Pengertian masyarakat (community) menurut para ahli sosiologi adalah sebuah perkumpulan banyak orang di dalam suatu tempat tertertu yang saling ketergantngan, yang mempunyai sebuah kebudayaan dan tujuan yang sama dan bersifat tetap.
Menurut Soerjono Soekanto di dalam bukunya yang berjudul SOSIOLOGI Suatu Pengantar[1], masyarakat (community) terbagi atas dua macam, yaitu masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat petkotaan (urban community). Dan masing-masing dari kelompok masyarakat tersebut mempunyai cirri-ciri tersendiri yang berbeda-beda.
 Dan masyarakat yang sakinah dan sejahtera adalah sebuah masyarakat yang diimpikan setiap orang, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat yang cenderung lebih suka akan setiap yang baik, apalagi adanya sebuah masyarakat yang teratur. Hanya saja dikarenakan oleh dorongan nafsunya mereka mengalahkan tabiatnya sebagai manusia yang sempurna.

 III.            KAJIAN DALAM PERSPEKTIF EPISTOMOLOGI
Masayarakat adalah modal utama untuk menuju sebuah Negara yang damai dan teratur, jikalau masyarakat sebuah Negara itu kondisional maka Negara dengan sendirinya akan bagus, tetapi jikalau masyarakat itu rusak moralnya dan tidak punya adab maka dengan sendirinya Negara itu akan mengalami kemacetan dan mungkin akan menemui kehancuran.
Dan untuk menjadi sebuah masyarakat yang sakinah mawadah warohmah diperlukan sebuah langkah-langkah yang menuju kearah tersebut. Dan dalam ha ini kami menggambarkan sebuah masyarakat akan menuai sebuah keteraturan jika setiap anggotanya menjalankan sikap-sikap yang dewasa ini:
1.      Sebagai pemimpinn masyarakat
Pemimpin masyarakat merupakan figur yang menjadi panutan semua warganya, oleh karena itu setiap perangkat desa harus mencerminkan perilaku-perilaku yang pantas untuk dijadikan teladan bagi warga yang menjadi tanggung jawabnya. Dan perilaku-perilaku tersebut antara lain :
a.       Lebih mendahulukan kewajiban daripada hak
Dewasa ini banyak pemimpin-pemimpin yang lebih banyak menuntut akan hal-haknya sementara mereka lupa akan kewajibasn-kewajiban mereka sebagai pemimpin yang harus mengayomi setiap warganya. Dan untuk menjadikan sebuah masyarakat yang damai dan tenteram dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang siap sedia untuk lebih dulu mementingkan kewajiban-kewajiban mereka dari pada menuntut akan hak-hak yang ada. Dan utnuk semua itu dibutuhkan keikhlasan yang maksimal dan pengetahuan yang mendalam tentang arti sebuah kepemimpinan.
b.      Mempunyai rasa sosial yang tinggi
Seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat yang luhur dan rasa social yang tinggi, karena untuk memikat warganya seoarang pemimpin harus bersosialisi dan berbaur dengan warganya dalam berbagai kegiatan yang dinilai pantas tanpa harus melihat jabatanya, dan tentunya hal itu akan  lebih membangkitkan rasa cinta warga terhadap pemimpin dan desa/kotanya sehingga semua warga dari berbagai lapisan masyarakat akan mudah untuk diajak maju dan berkembang.
2.      Sebagai warga
Untuk menuju sebuah masyarakat yang ideal dan sejahtera maka setiap warga masyarakat dituntut untuk memilki hal-hal berikut:
a.       Plurarimse dan kerukunan yang tinggi
Untuk terciptanya masyarakat yang penuh kedamaian dan ketentraman semua warga harus mempunyai sifat demokrasi, bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat itu terdapat berbagai macam perbedaan yang mewarnai kehidupan bersama dan saling melengkapi. Dan perbedaan, baik  perbedaa agama, pendapat dan apapun bukanlah merupakan batu pengganjal untuk terjadinya sebuah kerukunan hidup, oleh karena itu semua warga masyarak dari berbagai lapisan harus hidup dengan penuh kerukunan dan toleransi, biar bagaimanapun semuanya adalah saudara. Dan tidak dibenarkan seorang warga mengolok-olok warga lain hanya karena suatu perbedaan prinsip, dan setiap warga boleh saja membanggakan kelompoknya tanpa mencela kelompok lain. Karena fanatik yang berlebihan adalah suatu sifat yang tidak terpuji dan tidak bertanggung jawab.
Dan sebagai bukti adalah ketika rosululloh SAW hijrah ke kota madinah, yang pertama beliau lakukan adalah mempersatukan semua warga madinah dengan jalan mempersaudarakan anara kaum ansor dengan kaum muhajirin serta menjalin kerukunan bersama kaum yahudi. Dan kita dapat melihat kota madinah begitu damai dan sejahtera walaupun di tengah-tengan bermacam-macam perbedaan. Artinya sesama warga harus saling menghargai pendapat dan perbedan yang ada di antara mereka.
b.      Solidaritas yang tinggi
Semua warga masyarkat hendaknya memeiliki rasa solidaritas yang tinggi, merasa bahwa semua warga yang ada adalah saudaranya yang harus salaing tolong menolong dan Bantu membantu, merasa bahwa beban-beban yang ditanggung oleh satu orang warga merupakan beban yang harus dipikul oleh semua warga masyarakat yang ada terutama sekali tetangga terdekatnya. Dan didalam menghadapi sebuah masalah hendaknya semua warga masyarakat bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang timbul tersebut, misalnya saja ketika diadakan sebuah kerja bakti maka setiap warga masyarakat dari berbagai lapisan terjun untuk menyelesaikannya secara bersama-sama dengan penuh rasa tanggung jawab dan memiliki.
c.       Mendahulukan kewajiban dari pada hak
Untuk terciptanya suatu masyarakat yang rukun setiap warga masyarakat harus saling mengetahui dan menghormati akan hak-hak orang lain, sehingga merupakan suatu kewajiban seorang manusia untuk menghormati hak-hak sesamanya. Dan di dalam kitab “Tuhfatus Saniah” disebutkan bahwa “jika seseoarang tidak mengetahui akan hak-hak sesamanya, maka orang lainpun tidak akan mengetahui akan hak-haknya. Artinya bahwa bagaimanpun seseoarang mempunyai hak-hak pribadi tetapi untuk merealisasikannya jangan sampai mengganggu hak-hak orang lain. Misalnya dalam kehidupan bertetangga, seseorang tidak diperkenankan untuk membunyikan radio atau lainya dengan volume keras walaupun dia punya hak akan hal itu (kaena milik sendiri) tetapi tetengganya juga punya hak untuk merasa tenang dari bisingnya suara tersebut.
d.      Taat Aturan
Di dalam masyarakat yang sakinah setiap warga mayarakat dituntut untuk selalu mematuhi aturan-aturan atau norma-norma yang ada. Baik itu norma agama maupun norma yang dibuat oleh masyarakat setempat dan pemerintah.
Dan untuk membentuk suatu masyarakat yamg maju juga diperlukan adanya lembaga-lembaga sebagai berikut yang saling berperan aktif :
1.        Pendidikan formal dan non formal yang saling mendukung
2.        Orbanisasi-organisasi kemasyarakatan yang sehat
Dan disebutkan juga di dalam buku karangan Seorjono bahwa adanya beberapa unsur yang menpengaruhi kehidupan masyarat yang diperlukan untuk menubuhkan kerukunan setiap waraga mayarakat yaiu :
1.      Adanya rasa seperasaan diantara setia warga masyarakat
2.      Adanya rasa sepenanggungan diantara setiap warga masyarakat
3.      Adanya rasa saling memerlukan diantara setiap warga masyarakat.

 IV.            KAJIAN DALAM PERSPEKTIF AKSIOLOGI
Masyarakt adalah bagian dari sebuah Negara. Dan adanya bagian dari sebauh system tentu sangat berpengaruh terhadap system tersebut, dan begitu juga dengan adanya masyarakat tentu sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran sebuah Negara. Sehingga dengan adanya kehidupan masayarat yang patuh akan danya aturan dan tata tertib, masyarakat yang sejahtera, masyarakat yang maju dan berpendidikan tantu akan membawa dampak yang positif terhadap kehidupan social yang lebih tinggi lagi yaitu Negara. Begitu juga kalau  masyarakatnya tidak taat akan turan, sehingga banyak terjadinya hal-hal yang jelek seperti banyak terjadinya tindak kriminal, dan tindakan asusila lain, maka tentunya akan berpengaruh sekali terhadap kemunduran suatu bangsa.
Dengan demikian, harapan kami dengan ini semua akan menyadarkan setiap jiwa akan pentingnya menumbuhkan sebuah masyarakat yang teratur dan sejahtera, dengan harapan akan terciptanya sebuah Negara yang makmur dan sejahtera. Karena bagaimanapun untuk membentuk sebuah komunitas yang besar menjadi baik maka harus dimualai dari komunitas yang lebih kecil terlebih dahulu.
Dan dengan adanya masyarakat yang teratur akan menumbuhkan generasi-generasi yang tanguh yang dipersiapkan untuk mensukseskan program pembangunan nasional dan itu akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat tersebut. Karena dengan adanya masyarakat yang baik akan membentuk Negara yang baik pula sehingga dampaknya akan kembali kepada masyarakt itu juga, karena tujuan utama sebuah Negara adalah mensejahterakan rakyat yang berada di bawahnya.